Hukum Berselingkuh Dalam Ajaran Agama Islam

Hukum Berselingkuh Dalam Ajaran Agama Islam

Sebuah hubungan dalam ikatan pernikahan harus dipertahankan dengan baik sehingga butuh perjuangan dan juga pengorbanan besar untuk mewujudkan rumah tangga menurut Islam yang baik ataupun sebuah hubungan khususnya dalam permasalahan selingkuh. Bagi orang yang berkata jika selingkuh adalah hal indah, pada kenyataannya hanya dirasakan pada orang yang menjalani perselingkuhan tersebut. Namun bagi pasangan yang sudah dikhianati, maka hanya akan merasa sakit hati dan menderita akibat pasangan yang berselingkuh tersebut. Untuk penjelasan mengenai dasar hukum Islam mengenai perselingkuhan yang dilihat dari fungsi agama selengkapnya, bisa anda temukan jawabannya pada ulasan yang akan kami berikan berikut ini.

Pengertian Selingkuh Dalam Ajaran Agama Islam

Jika dilihat secara garis besar, maka selingkuh memiliki arti menyimpan atau menyembunyikan sesuatu hal hanya demi kepentingan sendiri dan tidak diberitahukan pada pasangan. Seseorang yang berselingkuh biasanya akan memperlihatkan tanda orang berbohong dari psikologi dan juga fisiknya.

Selingkuh atau zina dalam Islam dikenal dengan nama al khianah az zaujiyyah yang berarti seseorang yang sudah berpaling pada orang yang bukan menjadi pasangannya. Selingkuh dalam Islam memiliki arti berkhianat dan tidak memegang amanat yang sudah diberikan pada pasangannya untuk setia.

Meskipun perzinahan tidak dilakukan secara fisik, Berselingkuh dan juga perzinahan juga bisa dilakukan secara hati dan seseorang yang tidak mengerti tentang cara menjaga kesehatan hati serta pandangan mata sangat mudah terhanyut dalam hal tersebut khususnya jika sudah melibatkan fisik dalam perselingkuhan tersebut dan ini sudah jelas mengartikan jika itu adalah zina. Dalam hal ini, ada beberapa dalil agama Islam yang mengulas tentang perselingkuhan.

Dalil QS. Al – Isra’ 32

Allah SWT berfirman dalam Alquran mengenai zina, “Dan janganlah kalian mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.”

Dari firman diatas, sudah terlihat dengan sangat jelas jika selingkuh merupakan perbuatan yang menjurus bahkan sudah sama dengan zina dan sebagai umat muslim yang baik tentunya harus bisa menghindar dari perbuatan tersebut.

Bentuk Perselingkuhan Terbagi Beberapa Macam

Ketidaksetiaan (infidelity) terhadap pasangan resmi yang halal, ada dua macam :

Physical Infidelity/Physical Affair: Ketidaksetiaan yang melibatkan kontak dan kedekatan secara fisik (menjamah, memegang, meraba, berciuman), bahkan hingga menghantarkan pelakunya ke jenjang hubungan biologis (berzina/adultery).

Contohnya : Sexting (mengirimkan pesan yang berisi pembicaraan tidak senonoh yang menjurus kepada hubungan biologis, atau mengirimkan gambar vulgar yang bermuatan sexual) lewat media apapun bentuknya

Emotional Infidelity/Emotional Affair: Ketidaksetiaan yang hanya melibatkan keintiman secara emosional.

Contohnya : Mengungkapkan kata-kata mesra/sayang/cinta kepada lawan jenis yang bukan pasangan halal.

Ada Beberpa Pertanyaan ” Apa hukumnya bila istri selingkuh, dan bagaimana kalau mau rujuk dan minta maaf sama suami?”

Seringkali dalam kasus perzinaan, yang lebih disalahkah adalah pihak lelaki. Padahal perempuan yang berzina, tidak lebih baik dari pada lelaki yang berzina. Terlebih ketika sudah menikah, dosa jauh lebih besar, karena Allah sudah memberikan pilihan yang halal untuknya.

Hukum Berselingkuh Seorang istri, ulama memberikan rincian sebagai berikut.

Istri bertaubat dan sangat menyesali perbuatannya, bahkan dia berusaha meminta maaf kepada suaminya, mengubah cara pergaulannya dan cara berpakaiannya. Dia menjadi wanita yang dekat dengan Allah, menutup aurat dan menghindari pergaulan dengan lelaki yang bukan mahram,. Untuk kondisi ini, suami boleh mempertahankan istrinya dan tidak menceraikannya. Dengan dua syarat,

  1. Suami harus siap memaafkan istrinya dan tidak mengungkit masa lalunya, setelah dia bertaubat.
  2. Suami siap merahasiakan kasus istrinya dan tidak menceritakannya kepada siapapun.

Apabila sang istri belum bertaubat dan tidak menunjukkan penyesalan, bahkan pergaulannya masih bebas seperti sebelumnya, meskipun bia jadi dia hanya meminta maaf kepada suaminya. Untuk kondisi ini, ulama berbeda pendapat, apakah suami wajib menceraikan istrinya atakah boleh mempertahankannya.

Pendapat pertama, suami boleh mempertahankannya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Dr. Muhammad Ali Farkus mengatakan,

فالمعلوم شرعا أنّ زنى أحـــد الزوجين يوجب الرجم، لكنّه إذا انتفى بانـتـفاء شروطه فلا ينفسخ النـكاح بزنا أحدهما ولا يوجب فسخه سـواء قبل الدخول أو بعده عند عامة أهل العلم

“Seperti yang telah dipahami dalam aturan syariat, bahwa zina yang dilakukan salah satu diantara suami istri, menjadi sebab ditegakkannya hukum rajam. Namun jika hukuman ini tidak bisa ditegakkan, karena persyaratan untuk itu tidak terpenuhi, ikatan nikah tidak difasakh (dibubarkan) disebabkan zina yang dilakukan salah satunya. Dan tidak wajib difasakh, baik kasus zina itu terjadi sebelum hubungan badan atau sesudahnya, menurut pendapat mayoritas ulama.” (http://www.ferkous.com)

Pendapat kedua, suami tidak boleh mempertahankan istrinya dan harus menceraikannya. Karena ketika sang suami mempertahankan istrinya, dia dianggap tidak memiliki rasa cemburu, dan tergolong suami dayuts. Dan sikap ini termasuk dosa besar.

Hukuman Suami BerSelingkuh, Apa Yang Harus Dilakukan?

Dalam syariat yang disucikan ini telah diketahui secara pasti akan keharaman zina dan bahwasanya itu termasuk dosa besar. Karena itu, orang yang terjatuh ke dalam dosa ini harus bertaubat kepada Allah sebelum waktunya terlambat. Dan haramnya perbuatan zina ini makin bertambah jika yang melakukannya adalah seorang pria yang sudah menikah. Karena itu hukuman bagi pelakunya adalah rajam hingga meninggal.

Cara Menjaga Agar Terjauh Dari Selihkuh Klik Gambar Di Bawah Ini.

Jika memang telah jelas bagimu terjatuhnya suamimu ke dalam perbuatan zina, baik itu dengan pengakuannya atau dengan bukti syari yang menunjukkan itu, maka nasehatilah ia agar bertakwa kepada Allah, ia harus segera menghentikan hubungan haram dengan wanita itu dan juga memperbanyak amal saleh serta bersemangat untuk mencari teman-teman baik yang bisa menunjukinya kepada kebaikan dan ketaatan serta mengingatkannya dari kejahatan dan kemaksiatan.

Tidak boleh seorang wanita menikah dengan seseorang yang dikenal berbuat zina kecuali setelah ia bertaubat dengan jujur. Dan siapa yang menikah dengan seorang pria pezina, maka ia berdosa dan akad nikahnya pun batil. Dan siapa yang menikah dengan pria yang menjaga kehormatan (bukan pezina)lalu setelah menikah ternyata pria tersebut terjatuh ke dalam perbuatan zina, maka akadnya tidak batal hanya karena terjatuhnya ia ke dalam zina. Akan tetapi, bukan berarti seorang istri menerimanya sebagai suami jika ia tidak meninggalkan perbuatan zina tersebut.

Kesimpulan dari apa yang kami nasehatkan untuk anda:

Jika suamimu tidak bertaubat dan meninggalkan perbuatan zina, engkau harus berpisah dengannya dan meninggalkannya dan juga anaknya.

Akan tetapi jika ia bertaubat dari perbuatan itu dan tampak bagimu bahwa ia menyesali apa yang telah ia perbuat serta kuat persangkaanmu bahwa keadaan suamimu itu makin baik, maka tak mengapa engkau melanjutkan ikatan pernikahan bersamanya.

Dan kami nasehatkan engkau untuk menolongnya dalam memperhatikan dan merawat anaknya dari hasil hubungan haram itu. Mudah-mudahan Allah membalasmu dengan pahala karena sebab itu dan menggantikan bagimu kebaikan dari-Nya. Dan semoga anak ini kelak baik keadaannya dibandingkan yang merawatnya dan mendidiknya adalah orang-orang yang jauh dari agama.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: